Mengapa Ketupat Opor Ayam selalu ada dalam setiap Lebaran ?

Opor Ayam menjadi hal yang mutlak dihidangkan pada saat Lebaran tiba, baik untuk menjamu sanak keluarga, tetangga terdekat, hingga relasi pekerjaan yang ada. Namun, pernahkah mempertanyakan mengapa harus Opor Ayam yang seakan menjadi menu wajib disaat Lebaran ?.

Ketupat yang diiris disiram dengan kuah opor beserta ayam dan berbagai tambahan lainnya seakan menjadi salah satu kewajiban hidangan di setiap rumah, baik di desa maupun di kota sekalipun. Berbagai makanan masa kini mencoba dihidangkan, tetapi tidak akan menggantikan Opor ayam beserta ketupak yang menjadi ‘raja’ nya Lebaran. Ternyata hal ini tidak terlepas dari Sunan Kalijaga, yang merupakan salah satu wali yang menyebarkan agama Islam dengan budaya dan adat istiadat serta mempergunakan kuliner lokal sebagai salah satu alat penyebarannya. Akhirnya, makna akan bermaaf – maafan haruslah diingat masyarakat di hari kemenangannya, didapatlah ketupat yang mempunyai makna yang cukup dalam, yaitu :

 

  1. Anyaman dan Bentuk Ketupat

Bentuk dari ketupat yang bersegi empat mempunyai arti “Kiblat papat lima pancer” atau lima arah mata angina satu pusat, yang apabila ditelaah lebih filosofis lagi menjadi “berbagai penjuru mata angina akan tetap kembali pada pusatnya yaitu Allah SWT”.

Anyaman ketupat yang berliku menandakan rumitnya perilaku manusia dan dosa yang rumit,  dan ketika ketupat itu dibelah akan terlihat daging ketupat yang putih yang menandakan jiwa manusia yang bersih serta suci kembali setelah bulan Ramadhan dengan bermaaf – maafan dengan sesamanya.

 

  1. Makna Jamur (daun Kelapa) Sebagai Pembungkus Ketupat

Setelah bulan Ramadhan tentunya semua umat berharap akan datangnya Nur (Cahaya), sama halnya dalam artian jawa yang berarti Sejatine Nur yang merupakan arti dari janur daun kelapa sebagai pembungkus ketupat. Pada masa Sunan Kalijaga, ketupat hanya digunakan sebagai jimat di depan pintu rumah untuk keberuntungan, namun kini telah berganti makna sebagai cara untuk mengakui kesalahan disaat Lebaran.

Tradisi ini pun masih cukup melekat, seperti prosesi sungkeman kepada orang tua, sanak saudara, dan tetangga terdekat. Sungkeman bukanlah tradisi Arab, karena disana setiap sholat Ied biasanya akan langsung pulang kerumah masing – masing, namun berbeda dengan di Indonesia. Sungkeman mencoba untuk mengajarkan kita rendah hati, hormat terhadap orang yang lebih tua, mengakui kesalahan terhadap sesama.

Sunan Kalijaga mencoba memberikan pemahaman kepada kita betapa Panjang makna dalam sebuah ketupat dan opor ayam, sebuah proses yang mungkin sudah terkikis oleh era globalisasi dan tidak banyak orang yang tahu akan arti sebenarnya. Aki berharap, makna Lebaran bukan hanya sekedar THR, tapi juga coba untuk memaknai panjangnya proses hidangan yang tersedia didepan dan mencoba membuat kita tetap rendah diri terhadap sesame.

About the author

Leave a Reply