Tepat setiap peringatan hari jadi Kabupaten Cianjur, iring-iringan Kuda Kosong selalu hadir. Kuda bertubuh tinggi dibawa seorang ulama yang dikawal beberapa hulu balang. Iring-iringan ini biasanya menempati barisan terdepan dalam Pawai Pembangunan hari jadi Cianjur. Setelahnya diikuti anggota pawai lain perwakilan sekolah, instansi pemerintah daerah, swasta, pesantren dan lain sebagainya. Warga dari segala penjuru berbondong-bondong menyaksikan Pawai Kuda Kosong ini. Tentu sang kuda menjadi pusat perhatian. Ada sesuatu yang mistis dari pawai spesial ini.

Iring-iringan ini menggambarkan Dalem Aria Kidul / Rd. Aria Natadimanggala saat tiba di Cianjur setelah menempuh perjalanan panjang dari ibu kota kesultanan Mataram di Kertosuro Jawa Tengah ratusan tahun lalu. Kuda sengaja tidak dinaiki karena Aria Kidul merasa yang berhak menaiki kuda adalah Bupati Cianjur Rd. Aria Wiratanu II / Rd. Wiranggamala yang adalah kakaknya.

Kuda yang digunakan menjadi Kuda Kosong adalah seekor kuda yang berperawakan bagus, tinggi dan gagah yang kemudian dihias oleh berbagai hiasan. Sebelum Pawai Kuda Kosong berlangsung, si kuda pilihan biasanya menjalani beberapa tahapan. Salah satunya adalah ritual memandikan si Kuda Kosong. Selain itu, dilakukan juga proses pemanggilan Eyang Suryakancana yang akan menaiki Kuda Kosong tersebut. Eyang Suryakancana adalah penguasa Gunung Gede Pangrango. Menurut cerita juga, Kuda Kosong ini adalah persembahan untuk Pangeran Suryakancana yang menikah dengan putri dari bangsa Jin. Pangeran Surayakancana ini kini tinggal di Gunung Gede, atau menjadi penunggu Gunung Gede Pangrango.

Belum terlambat untuk Cucu yang hendak menyaksikan Pawai Kuda Kosong yang sekarang sudah jarang dilakukan. Tinggal mampir saja ke kota Cianjur pada peringatan hari jadi kota Cianjur. Jadi, sudah siapkan akomodasi untuk kesini? Aki tunggu tengah tahun ini!

 

Sumber foto: Berita Hati, Jabar Pojok Satu

About the author

Leave a Reply